Main Sama Orang Tua Tiriku Part 2

Main Sama Orang Tua Tiriku Part 2

Main Sama Orang Tua Tiriku Part 2  – Cerita Mesum kali ini situs Cerita69.asia akan melanjutkan cerita seks dewasa yang mantap dengan cerita sebelumnya yang pastinya bisa membangkitkan birahi seseorang yang berjudul Main Sama Orang Tua Tiriku Part 2  ,.. ya uda yuk kita langsung aja mulai aja cerita nya.. hehehe penasaran? yuk let’s go..

Enam bulan kemudian, Marni dan Riri meninggalkan kota kecilnya. Mereka ikut Om Jalil ke Jakarta. Om Jalil belum lama mereka kenal, tetapi mereka tidak peduli, mereka menginginkan hidup lebih baik ketimbang di kota kecilnya sendiri. Mereka tahu nasib apa yang bakal mereka terima di Jakarta nanti, diserahkan pada seorang germo yang namanya Tante Yeyet. Mereka pergi ikut Om Jalil tanpa sepengetahuan orang tua mereka masing-masing. Om Jalil menunggu mereka di stasion kereta api.

Dari sanalah baru mereka bersama-sama menuju Jakarta. Riri berani ikut dengan Om Jalil ke Jakarta karena dia juga sudah tidak perawan lagi. Bukit kemaluannya sudah ditoblos oleh Pandy. Pandy adalah pria yang sangat berpengalaman dengan wanita. Pandy pandai merayu. Dan Marinapun tergelincir dalam rayuannya dan berhasil digagahi Pandy, ia merupakan orang kedua yang pernah merasakan nikmatnya vagina Marni selain ayah tiri Marni Sementara kereta berjalan dengan pesatnya. Dalam perjalanan mereka di malam hari yang selama delapan jam dalam kereta api, Om Jalil tidak dapat menahan hawa nafsunya berjalan dengan dua orang gadis cantik yang menggoda.

Dengan sedikit memaksa Om Jalil mencoba untuk menggauli mereka. Pada waktu itu keadaan kereta yang mereka tumpangi tidak terlalu banyak penumpangnya sehingga banyaklah kursi yang kosong. Kebetulan deretan bangku di depan mereka kosong. Waktu itu lampu penerang gerbong sudah dipadamkan tinggal lampu remang-remang saja yang masih menyala menerangi keadaan gerbong yang mereka tumpangi.

“Kalian tentunya sudah berpengalaman dengan laki-laki?”, tanya Om Jalil memulai pembicaraan.

“Belum Om”, jawab Riri dengan malu-malu

. “Sudah berapa kali kamu merasakannya, Riri?”, tanyanya sambil memegang paha Riri yang hanya mengenakan rok mini dari bahan yang tipis.

“Merasakan apa, Om?”, tanya Riri berpura-pura tak mengerti. “Merasakan hangatnya batang peler pria memasuki lubang kemaluanmu”, jawab Om Jalil dengan terus terang.

“Saya, saya baru merasakannya sekali Om”, jawab Riri sambil menunduk.

“Tidak usah malu, apakah kamu menikmatinya?”, Om Jalil mulai menebar jaringnya.

Riri hanya mengangguk tanpa berkata apapun. “Sedangkan kamu sudah berapakali kecoblos Mar?”, mengalihkan pertanyaanya pada Marni . “Dua kali, Om”, jawabnya singkat.

“Syukurlah, jadi kalian sudah punya pengalaman”. Dia berhenti untuk menghisap rokoknya lalu mematikan rokok itu.

“Tapi aku perlu untuk mengetahui sampai di mana kemampuan kalian”, sambungnya sambil menghadap ke arah Riri .

“Bagaimana caranya Om?”. “Dengan mencobanya langsung”, jawabnya tegas. “Mencoba langsung, di mana Om?”. “Di sini saja, toh semua penumpang sudah tidur”. “Tetapi..”. “Tenang saja biar Om yang mengaturnya”, potong Om Jalil sambil merangkul tubuh Riri yang ada di sebelah kanannya,

 

 

Lalu ia mulai menciumi bibir Riri . Riri terpaksa melayaninya demi lancarnya perjalanan mereka ke Jakarta. Setelah beberapa saat lidah mereka saling berpilin, tangan Om Jalil mulai beraksi menyelinap, meremas payudara Riri melalui bagian bawah kaos ketat yang dikenakan Riri . Riri menggelinjang menikmati sentuhan tangan Om Jalil yang sangat lincah meremas payudaranya, apalagi bibir Om Jalil yang menggerayangi lehernya. Semakin ganas Om Jalil menikmati bukit indah milik Riri yang putih mulus itu setelah mengangkat kaos, dan melepas beha Riri .

Sedangkan Marni hanya menatap mereka dengan kosong. Tiba-tiba tangan Om Jalil yang satu meraih tangan Marni . Tanpa perlawanan tangan itu ditaruh di atas batang penisnya yang masih dalam celana. Marni mengerti maksud Om Jalil, dengan segan-segan dibukanya ikat pinggang Om Jalil lalu diturunkan ritsluitingnya, dikeluarkannya kemaluan yang sudah digenggamnya dari celana dalamnya.

“Mmhh…”, desah Om Jalil menikmati remasan tangan halus Marni pada batang penisnya.

Sementara tangan kanan yang bebas menjelajah ke dalam rok mini Riri , jari tangan kanannya dengan lincahnya mencoba melepaskan celana dalam yang dikenakan Riri . Riri mengangkat pantatnya untuk memudahkan Om Jalil melepaskan penutup belahan vaginanya, Riri mengangkat satu kakinya untuk melepaskan celana dalamnya yang melorot sampai di mata kaki, bersamaan dengan itu itu jari-jari Om Jalil menerobos bibir vaginanya, lalu mempermainkan clitoris yang ada di dalamnya. Riri gelagapan menahan nikmat yang dirasakannya pada clitorisnya yang dipilin jari-jari Om Jalil, serta gigitan-gigitan lembut pada puting susu kanannya serta belaian-belaian yang diselingi remasan nikmat pada buah dadanya yang kiri.

Sementara Marni tidak lagi meremas batang penis Om Jalil, tetapi dia menggocok batang penis itu dengan lembut. Pergumulan segitiga itu berjalan cukup lama hingga Om Jalil tak dapat lagi menahan nafsunya. “Pindahlah kamu ke bangku itu!” perintahnya pada Riri sambil menunjuk tempat duduk di seberang tempat duduk mereka. Riri mengikuti perintah Om Jalil, dia duduk menyadar di tempat yang ditunjuk Om Jalil. Lalu Om Jalil berdiri menghadap Riri dengan batang penisnya yang panjang besar dan hitam menunjuk ke arah Riri , ditariknya kaki Riri hingga posisi gadis itu setengah rebah menyandar, lalu dikangkangkannya paha Riri hingga tampak olehnya belahan indah yang dihiasi bulu-bulu lebat dengan bagian dalam yang merah merona, lalu diarahkannya kepala penisnya yang merah mengkilap memasuki lubang vagina Riri .

“Ssssshh…, aahh..”, desah gadis itu ketika dengan agak susah kepala penis itu memasuki lubang kemaluannya.

Om Jalil sendiri merasakan nikmat luar biasa ketika kepala kemaluannya terjepit oleh bibir-bibir vagina Riri yang sempit, hingga ia tak melanjutkan gerakan mendorongnya untuk menikmati pijitan bibir vagina itu di kepala penisnya. Sedangkan Marni hanya menyaksikan adegan itu dengan dada bergetar menghayalkan hal itu terjadi pada dirinya. Setelah terhenti beberapa kejap, dengan pasti Om Jalil melanjutkan dorongan pantatnya hingga,

“Blueess…”. Seluruh batang kemaluannya amblas memasuki vagina Riri .

Sedangkan Riri mengerang tertahan merasakan betapa batang kemaluan Om Jalil yang besar menyumpal di dalam lorong kemaluannya, membuat nafasnya terburu nafsu. Kenikmatan itu bertambah ketika Om Jalil menarik keluar batang kemaluannya hingga menimbulkan gesekan yang mengguncang seluruh tubuh Riri . Om Jalil memepercepat gerakan pantatnya mengeluar-masukkan penisnya hingga tubuh Riri terhentak-hentak kenikmatan, merasakan betapa dahsyatnya penis Om Jalil yang besar itu mengobrak-abrik lubang kemaluannya hingga membuatnya melenguh-lenguh nikmat.

“Ouuugh…, eeeghh…, te..ruuus.., ooom…, jaa..ngan…, berhenti.”, desah Riri tertahan menikmati tarian penis Om Jalil dalam lubang vaginanya yang semakin basah dan licin hingga mengelurkan suara decak pelan.

Semakin lama gerakan Om Jalil semakin gencar, dan remasannya pada payudara Riri semakin gemas, ditambah dengan gerakan pinggul Riri yang membuat batang penis Om Jalil seret keluar masuk, membuat keduanya tak dapat bertahan lebih lama lagi,

Hingga.., “Aah…, ahh…, essst…, esssst..”, desah Om Jalil sambil menggerakkan pantatnya dengan cepat.

“Ouuugh…, eessstt…, eeengh…, aakh…, aakuu.., ti.., tidak.., taahaan.., laagi…, om..”, erang Riri hampir mencapai puncak orgasmenya.

“Tung..guu.., sayang…, aakku…, juuggaa…, mmau.., ngecret..!”, ucap Om Jalil terputus-putus sambil menancapkan batang penisnya sedalam-dalamnya ke dalam vagina Riri .

“Akuuu…, kee..keeluar.., Ooom..”. “Akuuu…, juuggaa…, aaghh..”, dan, “Creeet.., creeet.., crettt.”, tersemburlah cairan nikmat dari batang penis Om Jalil ke dalam vagina Riri .

 

 

Keduanya saling berangkulan mencapai puncak kenikmatan bersama-sama, cairan kental membanjiri vagina Riri dan membasahi penis Om Jalil. Sementara ketika Om Jalil dan Riri bertarung, Marni begitu terangsang melihat permainan mereka hingga tanpa sadar tangannya meremas buah dadanya dan mengelus-elus bibir kemaluannya dan mendesah-desah seorang diri, karena dibakar hawa nafsunya sendiri. Om Jalil dan Riri sama-sama terkulai setelah keduanya mencapai puncak kenikmatan, sedangkan Marni merasakan denyutan-denyutan dalam liang vaginanya merindukan sentuhan kemaluan lelaki di dinding-dindingnya,

Semakin ia menahan gejolak nafsu itu semakin menggejolak nafsu itu dalam dadanya, akhirnya ia tak kuasa menahan diri, Marni bangkit dari duduknya lalu berlutut di hadapan selangkangan Om Jalil yang bersandar memejamkan mata di bangku sebelahnya, ditatapnya kemaluan Om Jalil yang menggantung lunglai, dibelainya kemaluan yang besar itu, walaupun belum tegak berdiri. Semakin lama belaiannya semakin menggebu lalu diremasnya penis yang mulai bangun perlahan-lahan karena remasan-remasan jemari lentik Marni . Om Jalil membuka matanya karena merasakan kegelian yang nikmat pada batang penisnya, dibiarkannya beberapa saat Marni yang belum tahu bahwa Om Jalil sudah terjaga, membelai dan meremas batang kemaluannya, Om Jalil berkata perlahan.

“Kau menginginkannya?”. “I.., iya Om aa.., aku menginginkan burungmu”, jawab Marni dikuasai oleh nafsunya.

Lalu Om Jalil memegang bahu Marni lalu mengangkatnya berdiri, ia menatap gadis di hadapannya, ia tahu bahwa Marni telah dikuasai oleh nafsunya, mulailah Om Jalil membelai tubuh Marni yang mengenakan gaun terusan tanpa lengan yang begitu minim. Tangannya meraba mulai dari bagian paha yang tak tertutup oleh terusan yang pendek itu, terus merambat menuju pada sepasang paha yang mulus itu sambil terus berdiri hingga pakaian Marni tertarik mengikuti gerakan berdiri Om Jalil, hingga Om Jalil berhasil melepaskan pakaian itu dari tubuh yang kini hanya mengenakan beha dan celana dalam.

Kembali Om Jalil membelai tubuh itu dari atas ke bawah sambil bergerak duduk. Setelah posisinya duduk berhadapan dengan selangkangan Marni yang hanya mengenakan celana dalam, tangannya bergerak melepas celana dalam itu hingga terpampanglah gumpalan bulu-bulu halus terhampar menghiasi sekitar bibir kemaluan yang begitu ranum dan menebarkan aroma yang menggairahkan hingga membuat darah Om Jalil menggelegar dan nafsunya mulai menanjak.

Dengan kedua tangannya Om Jalil merengkuh bungkahan pantat Marni yang padat ke arah wajahnya, lalu dengan rakusnya Om Jalil melumat bibir kemaluan Marni dengan penuh nafsu. Marni mendesah kenikmatan sambil membelai rambut Om Jalil yang tengah melumat vaginanya.

“Ooouugh…, Ooomm…, lakukanlah.., Oom.., aa.., aku…, dah ti..daak.., taahhan…, lagi..!”. Om Jalil hanya tersenyum dan menjawab dengan perlahan,

“Baiklah. Sekarang naiklah ke pangkuanku”, suruh Om Jalil pada Marni .

Marni mengikuti perintah Om Jalil, dengan cepat ia duduk di pangkuan Om Jalil. Penis Om Jalil yang tegak menghadap ke atas meleset miring diduduki oleh Marni .

Om Jalil berkata, “Bukan begitu caranya, sekarang berdirilah dengan lutut di atas bangku mengangkangi burungku!”,

Ajar Om Jalil pada Marni . Kini Marni mengangkangi Om Jalil yang duduk bersandar dengan penis tegak ke atas mengarah tepat pada bibir kemaluan Marni . Kembali Om Jalil memberikan instruksi kepada Marni ,

“Kini genggamlah burungku!”. Marni menggenggam penis Om Jalil.

“Arahkan ke lubang memekmu!”, Kembali Marni menuruti perintah Om Jalil tanpa berkata apapun.

“Turunkan pantatmu lalu masukkan burungku dalam lubang memekmu perlahan-lahan!”. Marni mengerjakan semua perintah Om Jalil hingga…, “Sleeep….”, Kepala kemaluan Om Jalil yang besar itu menyelinap di antara dua bibir vagina Marni yang langsung menjepit kepala penis itu dengan ketat.

Marni mendesah kenikmatan, “Oough…”. Dipegangnya bahu Om Jalil yang sedang merem-melek menikmati jepitan sepasang bibir vagina Marni yang kenyal dan sempit. Dengan suara terputus-putus kenikmatan Om Jalil berkata, “Yaakh…, begitu, sekarang turunkan pantatmu agar burungku dapat masuk lebih dalam!”,

Marni menghempaskan tubuhnya ke bawah, dirasakannya betapa penis Om Jalil yang besar dan panjang itu menerobos ke dalam liang vaginanya yang terdalam, yang belum pernah tersentuh oleh benda apapun karena penis Om Jalil adalah penis paling besar dan panjang yang pernah menerobos lubang vaginanya, dan itu memberikan kenikmatan yang belum pernah dirasakan Marni sebelumnya. Om Jalil sendiri mengejang menikmati gesekan seret dari dinding vagina Marni yang seakan mengurut penisnya dengan kenikmatan yang luar biasa. Dirangkulnya tubuh Marni untuk melampiaskan getaran kenikmatan yang dirasakannya. Sejenak keduanya terdiam tidak melakukan gerakan apapun karena tenggelam dalam kenikmatan yang tiada taranya.

Hanya getaran-getaran kereta api yang bergelombang membuat mereka melayang dalam arus kenikmatan bercinta. Akhirnya kesunyian itu dipecahkan oleh suara Om Jalil yang lebih mirip desahan. “Sekarang bergeraklah hurun naik agar lebih nikmat sayang!”.

“Eest.., baikh.., Om..”, jawab Marni sambil mulai mengangkat tubuhnya,

Terasa olehnya betap hangatnya gesekan kulit penis Om Jalil di dalam liang vaginanya, lalu dihempaskan lagi tubuhnya ke bawah membenamkan penis Om Jalil kembali dalam pelukan dinding kemaluannya yang berdenyut kenikmatan. Hal itu dilakukan Marni berulang kali seiring dengan getaran kereta yang menambah nikmatnya persetubuhan mereka, kian lama gerakan Marni semakin gencar menurun-naikan pantatnya. Sedang Om Jalil tidak hanya diam saja, ia mengiringi gerakan pantat Marni dengan menaikkan pantatnya bila Marni menghentakkan pantatnya membenamkan penis Om Jalil. Marni mendesah-desah menikmati permainanan yang hebat itu.

“Eeeghh…, niikhmat…, sekhali…, Om..” “Yaakh…, memang.., nikhmat memekmu ini Mar…, oouggh..”. “Ooomm…, hisaplah susuku ini agar lebikh nikhmat Om..” pinta Marni , sambil menarik kepala Om Jalil ke arah dadanya yang dibusungkan menantang itu.

Segera saja Om Jalil melepaskan satu-satunya pakaian yang masih melekat di tubuh Marni , menggelembunglah payudara yang kenyal menegang setelah Om Jalil menarik lepas penutup benda indah itu. Mulailah Om Jalil menjilati puting susu Marni yang merah menantang itu, tidak hanya sampai di situ saja, Om Jalil menghisap rakus buah dada yang benar-benar ranum itu kiri dan kanan sedangkan kedua tangannya meremas buah pantat Marni yang padat berisi dan membantunya turun naik menenggelamkan penisnya.

Semakin lama gerakan keduanya samakin menggila desahan-desahan tak henti-hentinya keluar dari sepasang insan itu. “Oooooogh…, oough…, akhh…, ahh…”, desahan Marni menikmati tarian penis Om Jalil yang perkasa di dalam lubang vaginanya yang semakin licin dan basah.

Cukup lama mereka berpacu dalam mengejar kenikmatan sehingga, “Eeeeest…, Ooough…, lebihh…, ceepat lagi…, Sayaang.., aku maau keeeluaar..!”.

“Yaakhh…, aku…, juga..,. sudahh…, tidak.., taahaan.., laagi…, Ooooomm”. Hentakan pantat mereka semakin cepat terbawa nafsu yang seakan meledakkan dada mereka hingga,

“Ooough…, Akuu…, keluaar…, sayang..” “Akhuu.., aakhh…”. “Creeet.., creet.., creettt..”, Keduanya saling berangkulan dengan erat menikmati puncak permainan mereka yang sungguh hebat. Marni berdiri mengeluarkan penis yang besar itu dari lubang vaginanya lalu berpakaian dan kembali lunglai di bangkunya menyusul Riri yang sudah terlelap. Sedang Om Jalil menatap kedua gadis bergantian lalu dia berpakaian dan kembali memejamkan matanya. Semuanya sunyi dan tenang. Tak ada lagi erangan-erangan atau desahan, mereka tertidur dengan penuh kepuasan, tanpa memikirkan apa yang menanti mereka di Jakarta nanti.

Semoga Cerita Dewasa yang Cerita69.asia bagikan ke kalian dapat memberikan informasi terupdate dan juga menambah wawasan kalian tentang Seks terutama yang sudah dewasa, dari cerita ataupun berita tentang kehidupan seks ataupun cinta dalam kehidupan masing-masing kita sebagai umat manusia yang memiliki nafsu birahi terhadap lawan jenis apabila mereka sedang tidak mengenakan busana sehelai benang pun. Terima Kasih… Salam Crot ( Cerita69.asia)

4 Shares

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *